Perbedaan Prinsip Asuransi Syariah Yang Perlu Anda Ketahui

prinsip asuransi syariah

Asuransi Syariah sedang sangat diminati oleh masyarakat. Berdasarkan berita yang dirilis OJK perusahaan asuransi syariah akan meningkat 10-11 % di tahun 2019. Hal ini disebabkan semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa setiap transaksi harus berdasarkan prinsip asuransi syariah yang tidak melanggar ajaran-ajaran islam.

Di sisi lain asuransi syariah menjadi salah satu jasa yang cukup diminati oleh para nasabah asuransi. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara asuransi konvensional dan asuransi syariah.

Perbedaan terdapat pada tata cara perjanjian, premi dan klaim asuransi yang semua harus sesuai dengan hukum islam.

Berikut kami akan membahas apa saja perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah serta prinsip-prinsip apa saja yang terkandung dalam asuransi syariah

Pengertian Asuransi

Konsep dasar asuransi menurut wikipedia adalah sebuah pertanggungan atau perjanjian antara dua belah pihak. Dimana pihak satu berkewajiban membayar iuran/kontribusi/premi.

Prinsip asuransi konvensional pada umumnya adalah ada dua pihak yang menjalankan perjanjian dimana satu pihak memiliki kewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran/kontribusi/premi. Dan pihak kedua sebagai penjamin (asuransi).

Ada 6 Dasar Prinsip Asuransi, Yaitu :

  1. Insurable interest yakni, Memiliki kemampuan finansial. Dengan ini perusahaan asuransi mendapatkan jaminan bahwa nasabah dapat memberikan interest bagi perusahaan asuransi.
  2. Indemnity, merupakan ganti rugi, yakni kompensasi kepada seseorang terhadap kerugian yang mungkin diderita, sesuai dengan yang tertulis pada perjanjian/polis.
  3. Utmost good faith, yakni Iā€™tikad baik. Nasabah memiliki kesadaran untuk memberikan informasi yang relevan bagi perusahaan asuransi.
  4. Subrogation, perusahaan asuransi memiliki hak untuk menyelidiki ataupun menuntut kepada pihak yang merugikan nasabah. Dalam hal ini jika terjadi kecelakaan, maka pihak asuransi berhak melakukan tuntutan terhadap klaim yang masuk dari nasabah mereka.
  5. Contingency insurance, yakni polis atas kondisi skenario terburuk yang dapat terjadi.
  6. Proximate cause merupakan asuransi untuk mengganti kerugian dimana pada jenis asuransi lain tak diganti.

Asuransi Syariah

Sedangkan Asuransi syariah sendiri memiliki dasar atau prinsip yang sama dengan asuransi konvensional. Namun yang membedakan adalah asuransi yang muncul atas permintaan nasabah yang ingin semua transaksi yang dilakukan sesuai konsep dan syariah islam.

Terdapat perbedaan yang cukup mencolok mulai dari penyetoran premi, investasi dana, sampai pembayaran klaim kepada peserta asuransi yang tertimpa musibah.

Landasan Hukum Asuransi Syariah

Landasan hukum asuransi sendiri diambil dari bahasa arab “takaful” yang berarti menolong atau membantu/mengambil alih perkara orang lain. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum Asuransi Syariah.

Sementara , Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi menjadi dasar berkembangnya perusahaan asuransi syariah di indonesia.

Contoh asuransi syariah pertama di Indonesia adalah Asuransi Takaful Indonesia, yang menerapkan prinsip asuransi syariah sebagai landasan menjalankan usahanya. Semenjak itu banyak bermunculan perusahaan-perusahaan asuransi berbasis syariah lainnya.

Berikut, kami akan menjelaskan prinsip-prinsip asuransi syariah.

1. Asuransi Syariah Harus Berlandaskan Tauhid

Untuk dapat menjalankan transaksi asuransi syariah, terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud tauhid. Yaitu segala sesuatu yang berkaitan haruslah menciptakan suasana dan kondisi muamalah yang terbangun oleh nilai-nilai ke-Tuhanan.

2. Asuransi Syariah Harus Memiliki Nilai Keadilan

nilai keadilan asuransi syariah

nilai keadilan asuransi syariah

Dalam setiap kegiatan yang terjadi dalam transaksi asuransi harus terpenuhi oleh nilai-nilai keadilan.  Yang dimaksud adil adalah tidak ada satupun pihak yang merasa dirugikan atau lebih diuntungkan dari pihak lainnya.

Pengguna jasa asuransi wajib membayarkan premi sesuai dengan kesepakatannya. Juga berhak mendapatkan pertanggungan ketika mengalami kemalangan.

Demikian juga dengan perusahaan asuransi harus mengelola dana dengan baik. Perusahaan asuransi juga berkewajiban membayar klaim kepada peserta ketika mengalami musibah atau bencana.

3. Menghindari Kedzaliman

Salah satu tujuan dari dibuatnya asuransi syariah adalah untuk mencegah adanya pihak yang merasa didzalimi. Karena sesungguhnya perbuatan dzalim tidak mencerminkan semangat asuransi syariah maupun ajaran islam.

4. Prinsip Tolong Menolong

Tolong menolong menjadi salah satu prinsip dalam asuransi syariah, karena dalam kerja sama asuransi tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Namun kedua belah pihak memiliki hak dan kewajiban yang sama rata.

5. Prinsip Kerja Sama

Dalam transaksi asuransi syariah dibutuhkan kerjasama yang baik antar kedua pihak yang terlibat. Yaitu berupa akad perjanjian asuransi syariah yang harus ditaati oleh perusahaan asuransi syariah dengan nasabah.

6. Amanah

Prinsip Amanah (dapat dipercaya) harus dapat dipegang teguh oleh perusahaan asuransi syariah. Karena nasabah telah mempercayakan asetnya dikelola oleh perusahaan.

Sehingga perusahaan asuransi syariah harus mempertanggung jawabkan amanah tersebut dalam bentuk laporan kepada nasabah.

7. Menghindari Riba

asuransi syariah tanpa riba
asuransi syariah tanpa riba

Asuransi syariah tidak mengenal sistem riba. Hal ini dikarenakan perusahaan telah melakukan perjanjian (akad) sesuai syariah islam dan mempergunakan dana tersebut sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

8. Menghindari Spekulasi

Dalam asuransi syariah sangat memegang teguh prinsip-prinsip keislaman yang jauh berbeda dari asuransi konvensional. Oleh karena itu sifat spekulasi atau bertaruh menjadi hal yang dihindari dalam asuransi syariah.

9. Menjauhi Perbuatan Suap-Menyuap

Perbuatan suap-menyuap pada dasarnya adalah perbuatan yang dilarang dalam ajaran islam. Begitu pun dalam prinsip-prinsip asuransi syariah. Dikarenakan akan merugikan salah satu pihak peserta asuransi syariah.

10. Menanggung Risiko

Tidak seperti asuransi konvensional yang memakai asas risk transfering, asuransi syariah justru menggunakan asas risk sharing. Dimana kedua belah pihak membagi risiko secara seimbang.

Cara Kerja Asuransi Syariah

cara kerja asuransi syariah

Cara kerja asuransi syariah adalah nasabah mengumpulkan dana kepada perusahaan asuransi syariah, yang nantinya digunakan ketika nasabah mengalami musibah atau kesulitan sebagai klaim dari dana yang dikumpulkan tersebut

Sehingga terdapat perbedaan yang cukup mencolok mulai dari penyetoran premi, investasi dana, sampai pembayaran klaim kepada peserta asuransi yang tertimpa musibah.

Contoh Perusahaan Asuransi Syariah

Ada banyak contoh perusahaan asuransi yang kini menawarkan jasa asuransi syariah dengan berdasarkan prinsip-prinsip syariah islam diantaranya adalah PRUsyariah, Allianz Syariah, Sinarmas Syariah, Mandiri Syariah, BNI Syariah dan masih banyak lainnya.

Setelah mendalami apa saja prinsip-prinsip asuransi syariah. Maka anda dapat menentukan asuransi syariah mana yang cocok bagi anda dan keluarga dengan memahami apa saja yang ditawarkan dari perusahaan tersebut. Selamat berasuransi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *